Langsung ke konten utama

Postingan

Teman yang Mewarnai

Benar adanya....bertemen dengan pedagang minyak wangi,pasti ketularan wanginya dan berteman dengan pedagang minyak tanah pasti juga tercium santernya bau minyak tanah. Begitu hebatnya pergaulan dan kebersamaan yang saling mewarnai, makanya sangat penting kita memilah dan memilih siapa teman kita, bukan berarti kita sombong memilih teman, tetapi harus bisa melihat seberapa banyak teman atau orang itu mewarnai kita. Kita  harus bisa melihat banyakan negatifnya atau positifnya sifat yang  dimiliki teman kita.....kalo banyak negatifnya sebaiknya jaga jarak pertemanan, tidak usah terlalu sering bertemu atau bersama, soalnya kalo terlalu dekat, kamu bisa ketularan sifat2 negatifnya, gak percaya? coba aja....

oh...LRT

Hmm...pagi mo ke kantor ketemu macet, sore pulang kantor ketemu macet...jadinya harus rela betis pegel dan  kenceng  ..gede...gak perlu practise, gede karena terlatih rem,kopling,gas...hehe...lengan pun sama ikut latihan,  pastinya nambah biaya jasa massage atau minimal buat si mbok2 tukang urut, pegalnya...ada yang mulai membiasakan diri untuk bersabar karena diserobot dari samping kiri atau kanan, ada yang mulai mengakrabkan diri untuk menumpahkan emosi kalo nemu pengendara oneng yg egois sok pengen duluan. Sumpah serapah pun kadang berhamburan  dari mobil dan motor yg memadati jalanan. Stok sabarpun semakin menipis. Jadinya bnyk yang memilih pergi ke kantor/ sekolah lebih pagi dan pulang lebih sore,tetepi resikonyo  waktu kita buat kumpul bareng keluarga jadi lbh singkat.. Baru beberapa minggu pembangunannya dimulai...terasa begitu lama...LRT... Menghubungkan ujung kota Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin dan ujung Palembang sisi yg lainnya,Jakabaring...

Sawang Sinawang...

Sawang Sinawang... ●Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah.. ●Aku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan, Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.. ●Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, Ternyata ia begitu menikmati badai ujian dlm kehidupannya.. ●Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna, Ternyata ia hanya berbahagia "menjadi apa adanya".. ●Aku melihat hidup tetanggaku beruntung, Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.. ●Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain.. Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku.. Tapi rejekiku tahu dimana diriku.. ●Dari lautan biru, bumi dan gunung, Tuhan telah memerintahkannya menuju kepadaku... ●Tuhan yang Maha pengasih menjamin rejekiku, sejak 9 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.. ●Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja.. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusan-Nya....

Pasrah

"Pasrahkan semua hanya kepada Allah",  itu bukan berarti kita hanya duduk  berpangku tangan. Manusia itu tetap harus selalu berusaha sebaik mungkin dan semaksimal mungkin. Rezeki tidak serta merta turun dari langit dengan hanya mengandalkan do'a,tetapi kita lah yg harus menjemput rizkinya. Kita pergi bekerja atau pergi keluar rumah, ketika itu sudah kita lakukan baru kita pasrah,ada Allah yg pasti. mendatangkan rezeki buat kita hambaNya yg sudah berusaha. Seperti kisah yg mungkin p  itu bukan berarti kita hanya duduk  berpangku tangan. Manusia itu tetap harus selalu berusaha sebaik mungkin dan semaksimal mungkin. Rezeki tidak serta merta turn dari langit dengan hanya mengandalkan do'a,tetapi kita lah yg harus menjemput rizkinya. Kita pergi bekerja atau pergi keluar rumah,

aksi 212

Semua karena Allah...tidak ada rencana kecuali hanya rencana Allah. Allah yang gerakan semua nya, tidak usah diperdebatkan ketika masih ada yang cuek, tidak perlu diributkan ketika masih ada yang nyinyir dengan aksi ini, masih ada yang bilang rame2 ke monas karena kurang piknik, masih ada yang bilang mau ikut jejak wiro sableng 212, masih ada yang bilang massa nasi bungkus atau massa gocapan...biarin aja...artinya memang mereka belum dipilih Allah untuk membela kitab suciNya, percuma juga kita yang pro mesti ngotot menyadarkan kalau Allah belum ridho menyadarkan dan membukakan hati mereka yang kontra. Aksi ini bentuk pembelaan kita masing2 pribadi kepada Agama dan kitab yang kita yakini. Menangis haru ketika sepanjang perjalanan  menuju Istiqlal dan monas  padat oleh peserta aksi terlihat sangat tertib,tidak ada bunyi klakson bising meskipun sangat  macet, sesekali karena padatnya kendaraan, motor bersenggolan satu sama lain,tidak ada teriakan atau umpatan,cuma ada saling...