Semua karena Allah...tidak ada rencana kecuali hanya rencana Allah. Allah yang gerakan semua nya, tidak usah diperdebatkan ketika masih ada yang cuek, tidak perlu diributkan ketika masih ada yang nyinyir dengan aksi ini, masih ada yang bilang rame2 ke monas karena kurang piknik, masih ada yang bilang mau ikut jejak wiro sableng 212, masih ada yang bilang massa nasi bungkus atau massa gocapan...biarin aja...artinya memang mereka belum dipilih Allah untuk membela kitab suciNya, percuma juga kita yang pro mesti ngotot menyadarkan kalau Allah belum ridho menyadarkan dan membukakan hati mereka yang kontra. Aksi ini bentuk pembelaan kita masing2 pribadi kepada Agama dan kitab yang kita yakini. Menangis haru ketika sepanjang perjalanan menuju Istiqlal dan monas padat oleh peserta aksi terlihat sangat tertib,tidak ada bunyi klakson bising meskipun sangat macet, sesekali karena padatnya kendaraan, motor bersenggolan satu sama lain,tidak ada teriakan atau umpatan,cuma ada saling senyum,maaf dan lambaian, indahnya. Di jalan tidak ada teriakan orasi atau ajakan aksi kepada warga yang melintas, yang ada lantunan sholawat dari mobil pickup dengan pengeras suara dan limpahan makanan juga minuman dari warga sepanjang perjalanan, banyak banget ya Allah...sungguh bak hidangan bagi para mujahidmu yang berada di aksi ini karena surat Al-Maidah yang artinya Hidangan. Tidak terlihat rebutan nasi bungkus karena memang bukan itu yg dicari. Rasa haru dan syukur karena Engkau ijinkan kami menjadi saksi semua ini. Massa gocapan mana yang mau basah kuyup kehujanan dan tidak bergeser sedikitpun dari shaf mereka, duh mahalan biaya ke dokter ya... Massa nasi bungkus mana yang belain sebungkus nasi 15 rb an dibanding harga tiket pesawat pp yang lumayan mahal, bahkan ada yang rela berjalan kaki ber kilo2 meter sampe kakinya bengkak demi cintanya ini. Ngebatin...siapa yang bayar ribuan orang ini...siapa yang nyiapin nasi bungkus buat ribuan orang ini.... duhai Allah..Engkaulah jawabnya..UjrohMu yang utama.izinkan lah kami ketuk langitmu dengan do'a dan dzikir kami dibarengin hujan ini, kami hanya harapkan RidhoMu. moga Engkau kabulkan hajat dan keinginan kami. Ijabah do'a2 dari kami ya Rob. Kami hanya manusia2 lemah yang selalu bergantung pertolonganMu. Sungguh Allah, kami tahu tidak ada yang sulit bagimu menghukum dan mengadili siapa pun yang Engkau inginkan, sungguh sangat mudah Engkau cabut nikmatMu atas semua...tapi Engkau ingin lihat pembelaan kami yang mengaku hambaMu atas agama yang dinistakan. Tetapkan hati kami dengan pembelaan ini Rob, Engkau yang maha tahu hati hambaMu... Lihat pembelaan kami yang turut langsung ataupun pembelaan saudara kami lewat do'a. #Jakarta212 #aksi212 #aksisuperdamai #GNP
Ibu Hajjah Rahmah El-Yunusiyah, sosok yang jarang orang mengenalnya. Termasuk saya pribadipun belum pernah mengetahui sejarahnya. Suatu kesempatan pada Expo Pendidikan Islam (2017) Aku berkunjung ke stand Diniyyah Puteri Sumatera Barat dan mendapatkan kisah sejarahnya di sana. Dia adalah pendiri Perguruan Diniyyah Puteri (Al Madrasatut Diniyyah) pada 1 November 1923. Wanita kelahiran 29 Desember 1900 dan wafat 1969 ini merupakan pejuan g pendidikan yang gigih dan ikhlas berkorban ini terinspirasi untuk melakukan inovasi pendidikan Islam setelah mengikuti pendidikan pada Diniyyah School yang didirikan oleh kakaknya Zainuddin Labay El Yunusy tahun 1915. Ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis dan sejak kecil ibunda Rahmah telah memiliki minat belajar yang tinggi. Selain belajar kepada Ayahnya Syaikh Muhammad Yunus dan kakaknya Zainuddin Labay El-Yunusiy, tercatat ada beberapa nama ulama yang menjadi tempat Ibunda Rahmah meuntut ilmu, dianta...
Komentar
Posting Komentar