Pada
kenyataannya yang sebenarnya ketika kita merasa haus kita pasti
memilih gelas yang terisi penuh daripada gelas yang kosong, tetapi
dalam menjalani kehidupan dan pergaulan ada baiknya kita menempatkan
diri kita menjadi gelas kosong. Sering ketika kita bertemu dengan
orang baru atau ada seseorang yang hadir dalam lingkungan kita,
kita atau teman lain berpikir “nih orang sok tau banget”....ups
jangan sampe kita yang dapet julukan “si sok tau”.
“si
sok tau” itu adalah “si gelas penuh”, gelas penuh yang jika
dituang lagi pasti isinya beluber kemana-mana. Biasanya si sok tau
itu memposisikan dirinya menjadi orang yang paling tahu segala hal
dan tidak mau menerima hal lain atau pendapat lain selain yang sudah
ada dipikirannya, merasa paling benar itu yang ada dipikirannya,
tidak peduli hal lainnya, padahal jika kita masuk di lingkungan baru,
kita lah yang harus menyesuaikan diri, bukan orang banyak yang harus
menyesuaikan diri mereka dengan kita, seperti peribahasa masuk
kandang kambing mengembik.....
Jangan
berharap menjadi si sok tahu yang know everything menjadikan
seseorang terlihat superior dibanding yang lain...at least bakal
diterima ...oh...no..there's no respect for you....tidak ada
seorangpun yang suka dengan si sok tau atau si gelas penuh, tidak ada
nilai plus yang kita dapat ketika kita menjadi gelas penuh yang
tidak menyerap ilmu apapun yang lewat dalam obrolan keseharian kita,
tidak ada nasehat yang masuk yang mungkin berguna buat kita, tidak
ada makna yang diperoleh dari percakapan yang dilakukan. Alangkah
banyak kerugian yang didapat dari kesombongan yang dibangun si gelas
penuh yang disebelin lingkungannya. Jangan ditiru ya kawan....
Memposisikan
diri menjadi “si gelas kosong” bukan berarti membuat orang
menilai kita menjadi seseorang yang tidak tahu apa- apa. Tidak ada
salahnya kita merasa tidak tahu apa-apa karena kita memang belum
tahu kondisi medan baru di depan kita. Menjadi si gelas
kosong memudahkan diri kita diupgrade dengan banyak ilmu, banyak motivasi
dan nasehat, berbagai macam kebaikan, mengeluarkan mindset negatif
dipikiran kita dan menggantinya dengan mindset positif.
Menjadi
si gelas kosong tidak serta merta membuat diri kita dengan mudah
diatur seenaknya oleh orang lain dan menjadi pengekor saja karena
setiap orang pada dasarnya sudah mempuyai base pikiran dan sudut
pandang masing-masing terhadap suatu persoalan atau permasalahan.
Seseorang yang luwes memposiskan dirinya menjadi si gelas kosong
terlihat elegan dan lebih pintar daripada si gelas penuh dengan
segala ke sok tauannya yang cenderung minim.
Komentar
Posting Komentar