Langsung ke konten utama

Evaluasi Diri, agar tidak merugi....


Jam berganti hari lalu hari
berganti bulan dan kini bulanpun telah berganti tahun....Barokaallah...semoga dari waktu ke waktu adalah perbaikan buat kita semua.
"Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” QS Al-‘ashr : 1-3
Sebelum kita jelang masa yang akan datang...tepat rasanya kita merenung sejenak, bermuhasabah, mengevaluasi diri sendiri agar bisa merubah diri menjadi lebih baik. Mengevaluasi diri sehingga kita tidak termasuk golongan yang merugi.
Renungkan...di tahun kemarin seberapa sering lisan dan tangan kita menyakiti orang lain, seberapa banyak kita menahan atau mengambil hak orang lain, seberapa sering kita mengabaikan membantu mempermudah urusan orang lain atau malah lebih senang mempersulitnya.
Seberapa sering kata kata dan perlakuanmu menyinggung orang di sekitarmu. Seberapa sering kamu berlaku tidak adil mungkin kepada anak2 mu, jiran tetanggamu atau rekan2 mu yang mungkin saja haknya kamu abaikan.
Seberapa sering kamu menjadi manusia egois yang selalu ingin dimengerti tanpa pernah berusaha mengerti orang lain.seberapa sering kamu menjadi pribadi yang selalu berbuat baik tetapi juga selalu berharap balasan.
Seberapa sering kita menjadi hambaNya yang taat daripada hamba yang kerap alfa.Seberapa sering kita tunaikan perintah Nya daripada acap lalai. Seberapa sering kita meminta RidhoNya daripada menyombong lupa panjatkan doa, padahal kita yakin Dia akan ijabah.
Seberapa sering ada selipan amarah dan protes kepadaNya ketika harapan kita belum terkabulkan, padahal Dia Maha tahu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan pinta umatnya. Seberapa sering kita sangsikan rezekiNya, padahal rezeki setiap hamba sudah digariskan, tetap akan menjadi milik jika sudah demikian.
Janji pada diri kita untuk barukan diri kita di tahun baru ini, istiqomah menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang Dimanapun dia berada, orang sekitar merasa nyaman dan aman dari gangguan tangan dan lidahnya. Menjadi manusia yang keberadaannya selalu dirindukan dan diinginkan orang sekelilingnya.
Mencoba menjadi manusia yang bisa ikhlas dengan segala ketetapan Allah, meskipun pedih terasa. Mencoba menjadi manusia yang bisa menikmati kepahitan, karena kepahitan tidak selalu buruk adanya, seperti halnya jamu, rasanya pahit tapi selalu jadi obat yang menyembuhkan dan menyehatkan.
Seperti juga halnya kopi pahit, akan terasa nikmatnya ketika kita tahu cara menikmatinya.
Mencoba melepaskan sakit hati tak perlu membalas dan berserah percaya hanya Allah Maha segala. Mencoba sabar dengan segala cobaan dan masalah, Mencoba pasrah karena yakin Allah yang Maha tahu apa yang terbaik buat hambaNya. Semua akan ada masanya dan semua akan ada saatnya...dan janji Allah itu pun pasti...Hasbunaallahu wa ni'mal wakiil....
1 Muharram 1440H (11 Sept 2018)
#hikmah5878

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Hajjah Rahmah El- Yunusiyah

Ibu Hajjah Rahmah El-Yunusiyah, sosok yang jarang orang mengenalnya. Termasuk saya pribadipun belum pernah mengetahui sejarahnya. Suatu kesempatan pada Expo Pendidikan Islam (2017) Aku berkunjung ke stand Diniyyah Puteri Sumatera Barat dan mendapatkan kisah sejarahnya di sana. Dia adalah pendiri Perguruan Diniyyah Puteri (Al Madrasatut Diniyyah) pada 1 November 1923. Wanita kelahiran 29 Desember 1900 dan wafat 1969 ini merupakan pejuan g pendidikan yang gigih dan ikhlas berkorban ini terinspirasi untuk melakukan inovasi pendidikan Islam setelah mengikuti pendidikan pada Diniyyah School yang didirikan oleh kakaknya Zainuddin Labay El Yunusy tahun 1915. Ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis dan sejak kecil ibunda Rahmah telah memiliki minat belajar yang tinggi. Selain belajar kepada Ayahnya Syaikh Muhammad Yunus dan kakaknya Zainuddin Labay El-Yunusiy, tercatat ada beberapa nama ulama yang menjadi tempat Ibunda Rahmah meuntut ilmu, dianta...

Surat Untuk Ibu

Ibu, Dulu aku tidak pernah tahu kenapa ibu sering marah karena kami tidak membantu pekerjaan rumah. Dulu aku pun tidak pernah tahu kenapa ibu sering meninggalkan kami di Rumah untuk bekerja. Dulu aku tidak mengerti mengapa Ibu kurang berselera makan dan kuat bergadang sambil mengompres dan menunggui kami yang sedang demam. Dulu aku juga tidak mengerti jika ibu khawatir karena kami tinggalkan dan tak menyentuh sepiring nasi goreng dan segelas susu hangat yan g disiapkan untuk sarapan kami. Dulu aku tidak paham kenapa ibu begitu sedih kalau ada diantara kami anak-anak yang membantah perintah dan perkataan ibu. Dulu aku juga tidak paham ketika ibu bergegas menyisihkan makanan jika ada salah satu diantara kami anak-anak Ibu yang belum pulang ke rumah. Ibu, seiring berjalannya waktu kini aku telah menjadi ibu dari dua orang anak yang mulai remaja, sekarang aku mengerti semuanya ibu. Andai ibu tidak pernah paksa kami membantu pekerjaan rumah,mungkin sekarang aku ...

Our favorite...

Makanan favorit keluarga kami adalah martabak telur dengan kuah kare. Sebenarnya makanan ini bukan hanya sekadar makanan favorit keluarga tetapi juga sebagai sumber penghidupan orang tua kami sejak aku belum lahir. Ayahku memperoleh ilmu membuat martabak Dari kakek buyutku yang berasal Dari Malabar India. Ayah mulai berjualan martabak sejak tahun 1972 di Palembang, makanya sejak kecil lidahku dan keluargaku sudah sangat akrab dengan martabak kare. Rasanya tiada hari yang dilewatkan tanpa sarapan martabak. Dan kesukaan ini kemudian juga menurun kepada anak dan para keponakan kami semua, kemanapun yang dicari martabak. Sejak beberapa tahun lalu warung martabak ayah sudah tidak ada lagi karena tidak Ada yang mengelolahnya seiring usia ayah yang sudah lanjut. Sesekali mengobati kerinduan pada martabak dengan membuat sendiri dan sesekali juga menerima pesanan. Berharap someday bisa punya resto martabak India. Akhirnya setelah selama ini masak tanpa ...