Sleman (Kemenag) --- Anak-anak Raudhatul Atfhal (RA) Mashitoh
Kantongan Madikorejo Tempel Sleman Yogyakarta tampak antusia menerima
pelajaran dari gurunya. Mereka terlihat menikmati metode Panah Tangga
Ceria atau Pantang Ria yang digunakan gurunya.
Adalah Ibu Sri, guru RA Mashitoh yang mengajar mereka. Jumat (14/09), salah satu pemenang guru berprestasi 2017 ini berbagi dengan Humas tentang aktivitas mengajar yang dilakoninya. Menurut Sri, pengembangan kreativitas anak perlu dilakukan semenjak usia dini sehingga nantinya mereka tumbuh sebagai anak kreatif. Anak yang kreatif, suka berkreasi dan dapat mengaktualisasikan serta mengekspresikan dirinya.
“Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna dan bermanfaat,” ujarnya.
Sebagai guru, Sri merasa perlu melakukan inovasi dengan mencari berbagai metode pengajaran untuk peserta didik. Sebab, dia merasa anak-anak akan mudah merasa jenuh jika belajarnya terlalu serius.
“Kami lebih sering mengamati cara murid bermain. Selanjutnya, guru menyediakan media dan juga mencari buku yang dapat digunakan oleh anak, agar anak mendapatkan keterangan tentang sesuatu hal yang belum diketahuinya,” ucapnya.
Saat belajar menghafal Alquran misalnya, Sri memulainya dengan membacakan penggalan ayat, lalu anak-anak menyambungnya dengan suara lantang dan bersemangat. Pembelajaran dilanjutkan dengan meminta anak-anak membacakan lafal surat yang disebutkan sambil mereka memperagakan dengan gerakan. Setelah itu anak-anak dengan antusias bermain Pantang Ria.
Sri Ngadiyati mendapatkan predikat guru berprestasi tahun 2017 dari inovasi metode pembelajaran yang telah diterapkan dan diujicobakannya kepada peserta didiknya. Ada 2 metode yang diikutsertakannya dalam lomba guru berprestasi, salah satunya Sri kenalkan "Pantang Ria" atau Panah Tangga Ceria.
Pantang Ria saat ini telah menjadi mainan yang disukai anak-anak RA Mashitoh. Caranya, anak didik diminta melempar sejenis dadu yang setiap sisinya menunjukan bulatan yang berbeda, antara 1 sampai 6 bulatan. Selanjutnya anak diminta melangkah sesuai dengan jumlah bulatan dadu yang dilemparkan.
Saat sampai di kotak yang dituju akan terlihat rumusan. Misal, pada kotak yang bertulis angka 2 terdapat rumus 1-a+1. Artinya, untuk kode huruf a menunjukan perintah anak harus menyebutkan agamanya. Jika anak tidak bisa menyebutkannya maka dia harus melangkah mundur ke angka 1. Jika jawabannya benar, dia dapat bonus 1 langkah ke kotak nomor 3.
Jika sampai pada kotak yang terdapat gambar azan, anak harus melantunkannya dengan baik dan benar. Pantang Ria ini seperti permainan ular tangga umumnya.
Sri menilai, 'Pantang Ria' baik buat anak usia dini karena menstimulasi perkembangan otak dan daya ingat mereka. Selain itu, permainan ini juga mengajak anak-anak untuk rajin menghafalkan perintah yang ada dalam permainan. Pantang Ria juga merangsang motorik anak dalam bergerak melangkah mengikuti langkah dadu yang dilemparkannya.
“Permainan ini diharapkan dapat dikembangkan lagi sehingga dapat juga dinikmati semua anak,”
pungkasnya.
https://kemenag.go.id/berita/read/508766/melihat-keseruan-permainan-pantang-ria-di-ra-mashotih-yogya
Adalah Ibu Sri, guru RA Mashitoh yang mengajar mereka. Jumat (14/09), salah satu pemenang guru berprestasi 2017 ini berbagi dengan Humas tentang aktivitas mengajar yang dilakoninya. Menurut Sri, pengembangan kreativitas anak perlu dilakukan semenjak usia dini sehingga nantinya mereka tumbuh sebagai anak kreatif. Anak yang kreatif, suka berkreasi dan dapat mengaktualisasikan serta mengekspresikan dirinya.
“Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna dan bermanfaat,” ujarnya.
Sebagai guru, Sri merasa perlu melakukan inovasi dengan mencari berbagai metode pengajaran untuk peserta didik. Sebab, dia merasa anak-anak akan mudah merasa jenuh jika belajarnya terlalu serius.
“Kami lebih sering mengamati cara murid bermain. Selanjutnya, guru menyediakan media dan juga mencari buku yang dapat digunakan oleh anak, agar anak mendapatkan keterangan tentang sesuatu hal yang belum diketahuinya,” ucapnya.
Saat belajar menghafal Alquran misalnya, Sri memulainya dengan membacakan penggalan ayat, lalu anak-anak menyambungnya dengan suara lantang dan bersemangat. Pembelajaran dilanjutkan dengan meminta anak-anak membacakan lafal surat yang disebutkan sambil mereka memperagakan dengan gerakan. Setelah itu anak-anak dengan antusias bermain Pantang Ria.
Sri Ngadiyati mendapatkan predikat guru berprestasi tahun 2017 dari inovasi metode pembelajaran yang telah diterapkan dan diujicobakannya kepada peserta didiknya. Ada 2 metode yang diikutsertakannya dalam lomba guru berprestasi, salah satunya Sri kenalkan "Pantang Ria" atau Panah Tangga Ceria.
Pantang Ria saat ini telah menjadi mainan yang disukai anak-anak RA Mashitoh. Caranya, anak didik diminta melempar sejenis dadu yang setiap sisinya menunjukan bulatan yang berbeda, antara 1 sampai 6 bulatan. Selanjutnya anak diminta melangkah sesuai dengan jumlah bulatan dadu yang dilemparkan.
Saat sampai di kotak yang dituju akan terlihat rumusan. Misal, pada kotak yang bertulis angka 2 terdapat rumus 1-a+1. Artinya, untuk kode huruf a menunjukan perintah anak harus menyebutkan agamanya. Jika anak tidak bisa menyebutkannya maka dia harus melangkah mundur ke angka 1. Jika jawabannya benar, dia dapat bonus 1 langkah ke kotak nomor 3.
Jika sampai pada kotak yang terdapat gambar azan, anak harus melantunkannya dengan baik dan benar. Pantang Ria ini seperti permainan ular tangga umumnya.
Sri menilai, 'Pantang Ria' baik buat anak usia dini karena menstimulasi perkembangan otak dan daya ingat mereka. Selain itu, permainan ini juga mengajak anak-anak untuk rajin menghafalkan perintah yang ada dalam permainan. Pantang Ria juga merangsang motorik anak dalam bergerak melangkah mengikuti langkah dadu yang dilemparkannya.
“Permainan ini diharapkan dapat dikembangkan lagi sehingga dapat juga dinikmati semua anak,”
pungkasnya.
https://kemenag.go.id/berita/read/508766/melihat-keseruan-permainan-pantang-ria-di-ra-mashotih-yogya

Komentar
Posting Komentar