Madinah -- Air mata tidak lagi bisa terbendung. Senin (13/5/2024), lelaki paruh baya itu menangis tersedu sambil sesekali mulutnya mengucap salawat, sesaat bus berhenti di depan hotel Jawal Taiba, tempatnya akan menginap di Madinah bersama rombongan selama sembilan hari ke depan.
Namanya, Zainudin Tunggeng. Duduk di sebelahnya, sang istri yang tak kalah tersedu, berurai air mata.
Bus ternyata cuma berhenti sebentar, ketika kami dari Media Center Haji (MCH) naik untuk mengambil foto. Bus harus bergeser dan memutar arah untuk mendapat lokasi parkir yang lebih aman. Sambil menunggu bus berhenti, kudekati pasangan suami istri itu. “Masya Allah, Bapak kenapa?,” tanyaku hati-hati.
“Saya bahagia sekali. Akhirnya setelah menunggu 12 tahun, saya dan istri bisa ke Tanah Suci. Saya sangat terharu saat tadi bus melewati Masjid Nabawi dan melihat payung-payung di Masjid Nabawi dari jauh. Indah sekali, saya tidak dapat menahan air mata,” ucapnya.
“Madinah ini Kota Nabi. Walaupun saya belum pernah ke sini, rasa rindu sekali untuk menyampaikan salam kepada baginda Rasulullah,” tambahnya.
Saya terus menyimak sambil berdiri dalam bus yang masih melaju mencari jalan menuju hotel karena akses yang terhalang portal.
“Whats your name? Where do you come from?” tiba- tiba dia melontarkan pertanyaan kepadaku.
Sambil tersenyum, kujawab tanyanya dalam bahasa serupa. Ia pun tampak mulai tenang, sedunya perlahan hilang. Istri di sebelahnya memberikan gawai sederhana, memintaku menulis kabar untuk anaknya.
“So you can speak English Sir,” tanyaku.
“Of course, I can speak English. I was an English Teacher,” jawabnya semangat.
Jemaah haji asal Selayar Sulawesi Selatan ini lalu bercerita bahwa dirinya adlaah pensiunan guru Bahasa Inggris di SMA. “Saya 12 tahun lalu pensiun dari guru. Istri saya ini pensiun juga dari perawat. Kami mendapatkan uang Tabungan Pensiun (Taspen) dengan nominal yang mencukupi untuk setoran awal ongkos naik haji waktu itu,” sebutnya.
“Kami bulatkan niat untuk mendaftar haji dan mendapatkan nomer porsi. Alhamdulillah ada rezeki untuk melihat Kabah,” ucap Bapak 72 tahun ini. Lelaki yang memiliki tiga orang anak ini mengaku tidak sabar untuk segera ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Bus sudah terparkir sempurna di depan pintu hotel, jemaah dipersilakan turun dari bus.
“Thank you for your attention, I have to go to my room and prepare to Nabawi,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.
Merantaulah.... Agar kamu tahu hidup ini tidak seindah yang kamu bayangkan. Ketika kamu merantau sebagai anak kuliahan, uang jajanmu tiba-tiba habis padahal kiriman orang tua masih lama, duh mesti puter otak nyari tambahan untuk nyambung hidup di rantauan, belajar untuk tidak ngandelin kiriman orang tua. Dess...nikmatnya pas si anak kuliahan ngerasain bisa dapet uang jajan tambahan....hmm...biasanya bantuin ketik tugas temen,...biasanya pinjem barang dagangan temen trus j adi reseller dadakan ngiderin kampus, kadang jual baju,kadang jual parfume,kadang jual sepatu,haha... itu mah hobby neng... biasanya siap bikinin catering terima orderan anything, biasanya nyamar jadi penjual tempe mendoan, biasanya buka warung pindang dan pempek plus martabak ,biasanya jadi suplier kue kantin sekolahan....ups...semua off record coz ortu bisa nangis bombay kalo tau anaknya ternyata kesusahan jadi perantauan. Sip..pokoknya ortu taunya IPK anaknya aman dah.. lebih dikit di atas r...

Komentar
Posting Komentar